erwinkallonews

Berita

Kinerja LTV Dinilai Belum Maksimal

Erwinkallonews.com, Jakarta-  Saat ini, kinerja Loan To Value atau LTV untuk memacu pemilikan rumah dinilai kurang maksimal. Sebagaimana yang dilansir dari Koran Bisnis Indonesia yang terbit pada Jumat (5/4), salah satu penyebab hal tersebut ialah karena suku bunga yang diterapkan dari bank pemberi pinjaman masih tinggi.

Melihat hal ini, Senior Associate Director Colliers International Indonesia Ferry Salanto pun angkat bicara. Ia menilai bahwa kinerja LTV bisa maksimal jika dibarengi dengan suku bunga yang rendah dari bank maupun pemerintah.

“Kalau dengan LTV uang muka jadi rendah, berarti kan cicilannya jadi tambah besar. Padahal, kalau mau mencicil rumah itu pasti mengacunya ke tingkat suku bunga dan maksimal Cuma bisa sampai 15 tahun-20 tahun. Kalau diperpanjang sampai 30 tahun mungkin masih masuk akal,” katanya.

Sementara, suku bunga dari bank umumnya masih dua digit saat ini. Jika bank menawarkan suku bunga satu digit hanya berlaku jangka pendek dalam 2 tahun-3 tahun.

Bagi Ferry, idealnya kalau bisa dilonggarkan bunganya di bawah dua digit agar pasar bisa bergerak lagi. “Namun jika melihat situasi ekonomi yang sekarang, BI harus mempertahankan suku bunganya tetap tinggi juga kan ya, wajar daripada nanti inflasi naik, rupiah melemah, daya beli masih turun makin parah lagi,” lanjutnya.

Nantinya, LTV hanya bisa digunakan oleh orang-orang yang dari sisi pekerjaan sudah mapan karena bisa menjamin cicilan lebih terjangkau, sebagaimana yang dikatakan oleh Associate Director Investment Service Colliers International Indonesia, Aldi Garibaldi.

Aldi lalu menambahkan bahwa jika melihat perekonomian Indonesia dengan proyeksi pertumbuhan di kisaran 5,10%-5,30%, ditambah dengan suku bunga acuan 7 Days Repo Rate (7DRR) 6% yang belum akan turun, hal ini belum cukup untuk mendorong daya beli properti oleh masyarakat.

Selain itu, menurut Aldi kebutuhan hunian itu tinggi. Ada potensi pembelian, tetapi belum terjadi. “Kebutuhan ini yang ke depannya harus diakomodasi dengan kebijakan yang lebih bersahabat, ditambah dengan daya beli mereka (pembeli) sendiri yang juga harus bisa memenuhi ke arah sana seperti bekerja di perusahaan bagus,” lanjutnya.

Permohonan kredit yang diajukan ke bank juga bisa tidak disetujui jika reputasinya kurang bagus, kata Aldi. Hal ini dikarenakan seseorang yang ingin mengajukan cicilan ke bank itu akan dilakukan pemeriksaan terlebih dahulu terkait dengan dimana pengaju kredit bekerja. Untuk memacu penjualan properti pasarnya juga harus dipusatkan kepada pemakai (end user), sebab bisa membuat kondisi pasar menjadi tidak sehat, kecuali barang yang dibeli untuk digunakan juga.

Kinerja LTV Belum Terlihat

Belum terlihatnya kinerja LTV dikarenakan LTV memiliki efek jangka panjang, sebagaimana yang disampaikan sebelumnya oleh Senior Director Leadss Property Services Indonesia, Darsono Tan. Hal ini dapat membuat kemudahan cicilan ke pembeli muncul dari inisiatif pengembang.

Masih dilansir dari Koran Bisnis Indonesia, Darsono mengatakan bahwa dengan seiring meningkatnya suku bunga pinjaman, pemerintah dan bank juga perlu mempertimbangkan lebih lanjut tentang kebijakan yang diperbarui dapat benar-benar menarik lebih banyak konsumen di sektor properti atau tidak.

Aspek lain yang perlu dipertimbangkan lainnya seperti tenor yang lebih panjang atau perpanjangan masa suku bunga yang sudah ditetapkan sebelumnya, karena hal itu dapat mendukung peningkatan daya tarik untuk sektor properti.

Bila mengingat beberapa waktu lalu, Bank Indonesia (BI) pernah mengharapkan dengan adanya aturan baru LTV-yang berlaku pada 1 Agustus 2018, bisa mendorong pertumbuhan Kredit Kepemilikan Rumah (KPR) sebesar 13,46% sampai 14% hingga akhir 2018. Namun yang diharapkan BI tersebut baru bisa terasa pada 3 kuartal setelah pemberlakuan LTV. Kebijakan itu juga dinilai dapat meningkatkan kredit perbankan sebesar 10%-12%.

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

POPULER

To Top