erwinkallonews

Berita

Melemahnya Harga Properti di Dubai

Erwinkallonews.com, Jakarta– Harga properti di Dubai mengalami penurunan karena adanya guncangan perekonomian global. Sebagaimana yang diketahui dari Koran Bisnis Indonesia yang terbit pada Jumat, (5/4), para investor juga khawatir jika terlalu banyak bangunan dapat membuat pasok real meningkat.

Mark Mobius atau yang dikenal sebagai investor pelopor di negara berkembang mengatakan bahwa penurunan harga tersebut masih akan terus berlanjut karena banyak investor yang menahan pembelian.

“Jika ingin membeli saya juga akan menunggu harga properti benar-benar anjlok, ketika semua bangunan sudah selesai dibangun dan orang mulai kesulitan untuk menjual propertinya,” ujarnya seperti yang diketahui dari Koran Bisnis Indonesia yang melansir Bloomberg, Kamis (4/4).

Sehingga dalam 5 tahun terakhir dan dengan adanya periode penurunan jangka panjang seperti yang disebutkan oleh S&P Global Ratings, harga jual dan sewa di Dubai menurun hingga tiga kali lipat. Penurunan harga tersebut akan terjadi hingga 12 bulan-18 bulan ke depan. Hal ini dikarenakan stimulus pemerintah terhadap perekonomian Dubai belum bisa kembali membangkitkan permintaan.

“Pemerintah Dubai sudah mengeluarkan pelonggaran visa jangka panjang untuk investor asing. Harusnya itu memberi keuntungan bagi orang berduit, tetapi nyatanya tidak,” jelas Lahlou Mekasaoui, Analisis Moddy’s Investor Service.

Diketahui pula, Dubai menggantungkan hidup dan matinya pada sektor properti real estate. Sehingga ketika ada penggelembungan properti seperti yang terjadi sedekade lalu, Dubai memerlukan dana dari Kota tetangganya, Abu Dhabi sebesar US$20 miliar. Tujuannya agar selamat dan tidak mengalami kebangkrutan.

Sejak harga properti memuncak pada 2014, perekonomian senilai US$108 miliar itu kemudian melunak karena mengalami transisi dari adanya ledakan properti menjadi penyusutan. Meski demikian saham pengembang di Dubai belum terlalu murah dan ke depannya, World Expo 2020  diperkirakan bisa menjadi momentum kebangkitan posisi Dubai di mata dunia. Hal ini sebagaimana yang dikatakan oleh Mobius.

“Namun, hal itu tetap tidak akan cukup untuk membangkitkan sektor properti Uni Emirat Arab kecuali pemerintahnya melakukan pelonggaran aturan imigrasi. Namun, bisa jadi itu malah memicu masalah baru,” tambahnya.

Di samping itu, pemilik hunian di New York harus membayar pajak yang paling tinggi. Seperti diketahui dari Koran Bisnis Indonesia yang mengutip Bloomberg, mereka dan di kota-kota pinggirnya itu harus membayar pajak rata-rata hingga US$9.700 tahun lalu, menjadi yang teratas di Attom Data Solutions untuk wilayah di seluruh Amerika Serikat.

Terakhir, di antara seluruh negara bagian yang tercatat wilayah Westchester di New York menduduki peringkat pertama dengan tagihan tertinggi mencapai US$17.392. Jumlah ini naik dari tahun-tahun sebelumnya yaitu US$17.179 dan hampir dua kali lipat dari batasan US$10.000 yang dikeluarkan Federal pada pajak untuk negara-negara bagian. Penduduk Rockland Country harus membayar pajak sebesar US$12.925 dan Marin Country di California Utara sebesar US$12.242.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

POPULER

To Top