erwinkallonews

BISNIS

Perhotelan 2019 : Okupansi Turun, Pasokan Bertambah

Gambar Hanya Ilustrasi

Pembangunan Hotel Meningkat

Selain hunian residensial, tahun ini juga dinilai menantang bagi bisnis perhotelan di Jakarta. Namun, tambahan pasokan kamar pada 2019 adalah yang tertinggi dibandingkan dengan tambahan pasokan dari 2018 hingga 2020, yaitu mencapai 3.213 unit. Senior Associate Director Colliers International Indonesia, Ferry Salanto mengatakan, bahwa pada awal 2019 dipastikan performa bisnis hotel di Jakarta akan cenderung rendah menjelang Lebaran, juga karena pemilu. Pemilu pada April 2019 akan menjadi tolak ukur kegiatan bisnis di Indonesia, khususnya di ibu kota.

“Okupansi hotel pada awal tahun akan rendah, bahkan setelah pemilu dan Lebaran. Setelah pemilu baru akan bergerak sedikit,” kata Ferry belum lama ini. Oleh karena itu, papar Ferry, beberapa pebisnis hotel mengharapkan kegiatan politik dapat menunjang okupansi hotel pada April 2019. Pihaknya belum melihat ada faktor eksternal seperti agenda internasional yang cukup kuat bisa mendorong okupansi hotel. Dia memproyeksikan, tingkat okupansi tidak akan bergerak banyak, tetap stabil pada 62% dan 63%.

Menurutnya, meskipun Asian Games 2018 menjadi kegiatan terbesar yang mampu menarik banyak orang untuk datang ke Jakarta. Penyelenggaraannya ternyata tidak terlalu mempengaruhi kegiatan bisnis penginapan. Okupansi hotel tetap didominasi oleh kegiatan bisnis. Berdasarkan laporan Colliers, pada 2019 menyumbangkan pasokan kamar sejumlah 3.213 unit yang dikontribusikan oleh 17 hotel baru, merata mulai dari hotel berbintang tiga, empat, hingga lima. Jumlah tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan dengan 2018, yang hanya menyumbang, 1.458 kamar, dari hotel berbintang tiga, empat, dan lima.

Ada 6 hotel yang telah selesai dibangun pada 2018, dan segera beroperasi pada awal semester I/2019, yaitu hotel berbintang empat Mercure PIK Avenue di Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara, dan Erian hotel berbintang tiga yang berlokasi di Jakarta Selatan. Sementara itu, empat hotel lainnya yang berlokasi menyebar di Jakarta beroperasi pada semester II/2019. Selanjutnya diproyeksikan pada 2020 pasokan kamar akan bertambah 874 kamar, sehingga menambahkan total pasokan kamar keseluruhan menjadi 45.260 unit pada 2020.

Ferry memaparkan bahwa kini total kamar hotel di Jakarta mencapai 41.173 kamar dengan didominasi oleh hotel berbintang empat. Jumlah tersebut mencakup 11.855 kamar hotel berbintang tiga, 16.248 kamar berbintang empat, dan 13.070 kamar berbintang lima. Berdasarkan lokasi, hotel-hotel ini kebanyakan masih terkonsentrasi di kawasan Jakarta Pusat yang terasosiasi langsung dengan pusat bisnis, seperti CBD yang juga sebagai pusat kawasan komersial.

Dekat Lokasi Strategis

Selain itu, hotel yang berdekatan dengan lokasi aktivitas meetings, incentives, conferencing, exhibitions (MICE), seperti JIEXpo dan JCC Senayan umumnya memiliki tingkat okupansi yang tinggi dibandingkan dengan kawasan lainnya. Untuk hotel di Bali, Ferry mengatakan bahwa wisatawan China masih mendominasi permintaan penginapan di pulau itu, kemudian disusul turis India.

“Kami melihat pasar rekreasi masih berperan sangat penting untuk mendorong industri pariwisata di Bali seperti pasar lainnya dari sektor MICE, pernikahan, dan acara olahraga,” ujar Ferry. Menurut data Colliers, dari 2019 hingga 2021 diprediksi total jumlah kamar hotel hanya akan naik sebanyak 3.447 kamar secara keseluruhan mulai dari hotel hemat hingga hotel berbintang. “Dari jumlah tambahan tersebut, jumlah kamar hotel di Bali secara keseluruhan akan mencapai 65.216 kamar pada 2021,” lanjutnya.

 

Dikutip dari media cetak Bisnis Indonesia, 29 Januari 2019

Dengan judul “Okupansi Turun, Pasokan Bertambah”

Penulis : Maria Elena

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

POPULER

To Top