erwinkallonews

ARTIKEL

Keberadaan Co-Working Space Ancam Small Office Home Office

Cocok Untuk Kaum Milenial

Dalam perkembangan zaman serta teknologi yang pesat saat ini, berdampak pada cepatnya pergerakan dan mobilitas masyarakat terutama kaum milenial. Untuk mendukung hal tersebut, maka dibutuhkan konsep properti perkantoran yang dapat mengakomodasi dan mempermudah aktivitas bisnis tiap masyarakat.

Konsep ruang kerja bersama atau co-working space menunjukkan tren yang meningkat, bahkan bisnis ini semakin gencar memasuki area pusat bisnis, khususnya perkantoran. Biasanya dalam co-working space terdapat satu ruangan terbuka untuk digunakan bersama dan ruangan-ruangan kecil yang dapat disewa per individu atau per komunitas atau perusahaan.

Pada saat ini, keberadaan co-working space banyak terdapat di lokasi yang strategis. Dikutip dari media cetak Bisnis Indonesia (Kamis, 28 Februari 2019), Vice President Coldwell Banker, Dani Indra Bhatara mengatakan, “Mereka (pengelola co-working space) sudah memilih lokasi yang prime, area central business district, karena mereka menyasar perusahaan yang ingin memilih lokasi yang baik. Jadi, mereka megambil gedung-gedung dengan grade A.” Dengan memilih untuk berlokasi di gedung-gedung dengan grade A tersebut, maka co-working space memberikan daya tawar yang lebih murah, dibandingkan harga sewa unit perkantoran di gedung tersebut.

Pasar SOHO Tergerus

Disamping itu, perkembangan co-working space cukup berpengaruh terhadap small office home office atau yang dikenal dengan sebutan SOHO. Dengan adanya keberadaan co-working space, SOHO menjadi kurang diminati, terutama bagi kaum milenial, karena konsepnya yang dibuat sebagai tempat tinggal dan kerja, jadi tiap unitnya harus besar, sehingga harganya lebih mahal dan tidak cocok untuk mereka (kaum milenial).

Salah Satu Neo SOHO di Jakarta Barat (sumber : jendela360.com)

Kepala Bidang Riset dan Konsultan Savills (global property consultant), Anton Sitorus pun mengatakan, “Kalau milenial dia mungkin tempat bekerjanya yang cocok itu ya, yang co-working space, dari sisi lingkungannya yang casual, lalu dekat dengan fasilitas-fasilitas penunjang lifestyle.” Anton pun menyimpulkan bahwa tergerusnya pasar SOHO bukan dikarenakan jumlah perusahannya yang menyusut, melainkan memang konsepnya yang sudah tidak menarik lagi, terlebih  bagi kaum milenial.

Selain itu, co-working space yang bertumbuh di gedung perkantoran juga semakin memudahkan perusahaan yang membutuhkan virtual office, tanpa perlu memikirkan untuk menyewa gedung, kelengkapan fasilitas kantor, dan interior ruangan, perusahaan yang ingin menyewa co-working space tinggal menghitung biaya sewa yang harus dikeluarkan setiap bulan. Dengan demikian, apakah nanti co-working space akan menguasai pasar perkantoran di Indonesia?

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

POPULER

To Top